Rabu, 12 Oktober 2016

Hubungan Diabetes Melitus dan TB

Beberapa waktu lalu saya mengikuti seminar epidemiologi di  Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Dipenogoro Semarang, kemudian para narasumber sering sekali membahas tentang  penyakit TB dan DM  di Indonesia, dan 2 penyakit tersebut menjadi salah satu target dari SDGs untuk dapat dilakukan  penurunan jumlah penyakitnya. Oh iya, bagi yang belum tau, SDGs adalah kepanjangan dari Sustainable Develompment Goals. SDGs merupakan pengganti dari MDGs (Milenium Development Goals ). SDGs merupakan  program program  yang memuat  masalah prioritas kesehatan di Indonesia yang di targetkan untuk angka penurunannya untuk tahun 2015 sampai dengan Tahun 2030. Namun, kali ini saya tidak membahas mengapa program MDGs di ganti dengan program SDGs.  Kali ini saya akan membahas apakah ada hubungan antara penyakit Diabetes Melitus (DM) dan Tuberkulosis (TB).  Mengapa 2 penyakit ini saling mempengaruhi satu sama lain.


Pasien TB di Indonesia pada Tahun 2013 mencapai 1 juta orang per tahun. Untuk penemuan kasus ada peningkatan walaupun tidak signifikan yaitu 200.000 orang di tahun 2003 menjadi 300.000 orang di Tahun 2013. Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat dan merupakan negara dengan penderita ke 5 terbanyak di dunia setelah India, Cina, Afrika Selatan, dan Nigeria.
Meskipun program pengendalian TB nasional berhasil mencapai target MGD’S akan tetapi pelaksanaan TB terutama di sebagian rumah sakit, klinik dan praktek swasta belum sesuai dengan strategi DOTS ataupun standar pelayanan sesuai International Standards for Tuberculosis Care (ISTC). Demikian pula ketersediaan fasilitas laboraturium, penerapan standar pencegahan infeksi nosokomial kolaborasi TB-DM yang belum optimal berkonstribusi terhadap munculnya tantangan penyebaran TB di Indonesia.

Diabetes melitus didefinisikan sebagai hiperglikemia yang tidak lazim, yang dihasilkan dari kurangnya prosudksi insulin, kerja insulin atau keduanya dengan terjadinya penurunan karbohidrat, protein dan metabolisme lemak dan komplikasi vascular jangka panjang secara terus menerus.  Jumlah pasien diabetes mellitus (DM) di dunia diperkirakan meningkat menjadi 366 juta orang pada tahun 2030 dengan peningkatan tercepat pada negara berpendapatan rendah dan menengah. Lebih dari 80% kematian DM terjadi di negara berpendapatn rendah dan menengah. Prevalensi DM secara global diperkirakan meningkat 50% pada tahun 2030 dan di Indonesia mencapai 6,6% pada laki laki dan 7,1% pada perempuan (Chim, 2000)


Pada tahun 2009, para pakar menemukan bukti yang menunjukkan hubungan antara pasien diabetes mellitus (DM) dan tuberculosis (TB), dan sejak tahun 2011 diluncurkan kerangka kerja untuk pengobatan kolaborasi TB dan DM salah satunya adalah deteksi dini dan pengelolaan TB pada pasien dengan penyakit DM (Cahyadi, 2011). WHO juga menunjukkan bahwa pasien DM dapat meningkatkan risiko 3 kali lebih besar terinfeksi TB daripada masyarakat umum (Sidibe dan Sankale, 2007),  penelitian lain menyatakan bahwa DM adalah salah satu faktor risiko yang dapat memperburuk kejadian TB (Prakash dan et all, 2004). Pasien DM meningkatkan risiko TB Pasien DM menyumbang sebanyak 14,8% kasus TB baru, dan sebanyak 20,2% ditemukan kasus TB dengan BTA positif (Harries dan et all, 2013).


Diabetes Mellitus merupakan suatu kondisi kronik dimana tubuh tidak dapat memproduksi insulin yang cukup atau tidak efektif untuk dipergunakan yang akhirnya menyebabkan penderita tidak dapat mempergunakan glukosa dengan sebaik baiknya. Hal ini menimbulkan tingginya kadar glukosa di dalam darah (hipergliemia) sehingga dapat mengakibatkan kerusakan jaringan. keadaan hiperglikemia pada penderita DM menciptakan lingkungan yang mendukung untuk tumbuh kembang mikrobakterium tuberkulosis. Beberapa peneliti juga menyatakan bahwa fungsi perlindungan sel yang berkurang meningkatkan kemungkinan timbulnya infeksi ditambah meningkatnya kadar gliserol dan nitrogen yang menjadi faktor pertumbuhan bakteri mikrobakterium tuberkulosis. Disamping itu Paru pada penderita DM akan mengalami perubahan patofisiologis, seperti penebalan epitel alveolar dan lamina basalis kapiler paru yang merupakan akibat sekunder dari komplikasi mikroangopati (sama seperti retinopati dan nefropati) dan memberikan dampak yaitu penurunan elastisitas rekoil paru, penurunan kapasitas difusi karbon monoksida, dan peningkatan endogen produksi karbonmonoksida (Jeon et all, 2010).


Diabetes mellitus juga memberikan komplikasi serius salah satunya infeksi TB. Peningkatan risiko terjadinya TB aktif pada penderita DM diduga akibat gangguan sitem imun, peningkatan daya lekat kuman microbacterium Tuberculosis pada sel penderita DM, mikroangopati, dan neuropati. Terjadinya infeksi sangat tergantung dari faktor luar akan tetapi reaktivasi kuman juga dapat terjadi dalam keadaaan imun rendah. Pada penderita diabetes, imunitas selular berkurang yang berdampak pada berkurangnya limfosit Th1 termasuk produksi TNFa, IL 1Ī² dan IL6. Marker ini berfungsi sebagai pertahanan terhadap microbakterium tuberkulosis. Disamping itu kontrol gula darah yang buruk menjadi faktor risiko timbulnya TB pada pasien DM. Penelitian yang dilakukan di Hongkong menyatakan bahwa pasien dengan nilai HbA1C >7 memiliki risiko 7 kali untuk mendapatkan TB aktif dibandingkan kelompok pasien dengan HbA1C <7.

Untuk mengetahui seorang yang DM  terinfeksi kuman TB atau tdk diperlukan diagnosis melalui anamnesis, pemeriksaan fisik (suara nafas bronkial melemah, ronki basah, dan retraksi interkostal atau diafragma), dan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan bakteriologi dan radiologi.  Gejala TB pada psien DM sama seperti pasien TB pada umumnya seperti :


1.      Batuk berdahak 2-3 minggu atau lebih (dahak dapat bercampur darah, batuk darah)
2.      Sesak nafas
3.      Badan lemas
4.      Nafsu makan menurun
5.      Berat badan menurun
6.      Berkeringat di malam hari tanpa kegiatan fisik
7.      Demam meriang lebih dari 1 bulan


Jika mengalami gejala tersebut diatas, pasien DM hendaknya langsung memeriksakan diri ke Dokter di Puskesmas atau Rumah Sakit wilayah domisili. Biasanya dokter akan melakukan diagnosis utama dengan menegakkan temuan kuman TB (BTA) melalui pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan bakteriologi penting untuk menemukan Mikrobakterium TB pada semua pasien dicurigai TB paru diperiksa 3 spesimen dahak dalam 2 hari, sewaktu-pagi-sewaktu (SPS). Pasien DM dikatakan terinfelsi TB jika :
       1.  Sekurang kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif
       2.  1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran TB
       3. 1 spesimen dahak  SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif

Secara radiologis, TB paru pada pendrita DM sering menunjukkan gambaran dan distribusi radiografi yang atipikal; pada penderita TB tanpa DM kavitas atau infiltrat banyak ditemukan pada lobus atas, sedangkan pada penderita TB paru disertai DM, lapangan paru bawah lebihsering terlibat (29% pada kasus dengan DM, 4,5% pada kasus non-DM), diikuto lobus atas kemudian tengah. Keterlibatan paru bilateral sebesar 50%, 33% berkaitan efusi pleura, dan 30% terdapat kavitas. Gambaran radiologi termasuk fibrosis, konsolidasi, opasitas homogenus dan heterogenus. 

Reference :

      1.  Chin James, MD,. 2000. Manual Pemberantasan  Penyakit  Menular .Ed 17. Editor Kandun  Nyoman.
2    2. Cahyadi A, Venty. Tuberculosis paru pada pasien Diabetes Mellitus. Majalah Kedokteran Indonesia. 2011;61(4): 173-8.
3    3. Sidibe EH, Sankale M. 2007. Diabetes and pulmonary tuberculoisP Epidemiology, Pathophysiology and symtomatology. J French Stu Res Health, 2007;17:29-32.
4    4. Harries AD, Satyanarayana S, Kumar AMV, Nagaraja B, Isaakidis P dkk. Epidemiology and interaction Diabetes Mellitus and Tuberculosis and Challenges  for care: a review. Public Health Action. 2013;3:3-9
1    5. Jeon CY, Harries AD, Baker MA,Hart JE,Kapur A, Lonroth K, Ottmani SE, Goonesekera S, Murray MB. Bi-directional Screening for tuberculosis and diabetes.Trop Med Int Health. 2010;15(11):1300-14. 



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar